Rabu, 13 April 2011

Sayyidina Hasan ra

Dipertengahan bulan Romadhon tahun ketiga Hijriyah kota Madinah dan khususnya kediaman Rosululloh SAW digembirakan dengan berita lahirnya cucu pertama baginda Rosululloh SAW. Putri tercinta beliau yaitu Siti Fathimah ra.melahirkan seorang putra yang akan meneruskan keturunan dari Rosululloh SAW.
        Seorang putra yang diberi nama Hasan, yang sekarang keturunannya banyak terdapat diberbagai negara dan dikenal dengan sebutan Syarif atau Asyrof
      Imam Bukhori meriwayatkan, pada suatu hari Rosululloh SAW bersabda :
اَِنَّ اِبْنِى هَذَا سَيِّدٌ وَسَيَصْلُحُ الله بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ عَظِيْمَتَيْنِ مِنَ المُسْلِمِين
             ( البخارى والترمذى وابو داود والنسائىوالطبرانى واحمد )         
        Sesungguhnya anakku ini adalah pemimpin dan Alloh melaluinya akan mendamaikan dua kelompok yang sangat besar dari kaum Muslimin.
                                                        ( HR. Bukhori, Thurmudhi dll )
        Demikian sabda Rosululloh SAW mengenai kebesaran dan keutamaan Sayyidina Hasan ra.
       Sayyidina Hasan ra. adalah putra pertama  Imam Ali bin Abi Thalib kw. dari istri beliau tercinta Al Batul Fathimah binti Rosulillah SAW. Beliau lahir dikota Madinah pada pertengahan bulan Romadhon tahun ketiga Hijriyah.
        Pada saat ibunya yaitu Siti Fathimah ra akan melahirkan  putra pertamanya itu, Rosululloh SAW berpesan kepada Asma’ binti Umais dan Ummu Salamah; Pergilah  (dampingilah)  Fathimah, dan apabila dia sudah melahirkan, maka Azanilah anaknya ditelinga kanannya dan igomatlah ditelinga kirinya. Dan ketahuilah bahwa anak yang sudah di azani dan di igomati seperti itu, maka anak tersebut akan terjaga dari Syaiton.
        Selanjutnya begitu Siti fathimah ra. melahirkan putranya, langsung apa yang dipesankan oleh Rosululloh SAW tsb, dikerjakan oleh Asma’ ra dan Ummu Salamah ra
        Tidak lama kemudian datanglah Rosululloh SAW, diangkatnya cucunya  sambil berdoa :
اَللّهُمَّ اِنِّى اُعِيْذُهُ بِكَ وَذُرِّيَتَهُ مِنَ الشّيْظَانِ الرَّجِيمْ
( البخارى والترمذى وابن ماجة واحمد )
 Ya Alloh aku perlindungkan dia dan keturunannya kepadamu  dari Syaiton yang terkutuk.
                                                       ( H R Bukhori, Thurmudhi dll )    
       Pada hari ketujuh dari kelahiran Sayyidina Hasan, Rosululloh SAW  datang ketempat  Sayyidina Ali kw dan bertanya, kalian beri nama siapa?. Mereka menjawab Harb. Kemudian Rosululloh SAW  berkata, jangan, namailah Hasan. Selanjutnya Rosululloh SAW berkata kepada putrinya; Hai Fathimah, cukurlah kepalanya, kemudian timbanglah rambutnya dengan perak dan sodagohkan.
      Begitu selesai dicukur kepalanya, Rosululloh SAW segera menggosok-gosokkan tangannya dikepala cucunya, sambil membaca doa.
      Diriwayatkan dari Sayyidina Ali kw.; ketika Hasan lahir dia saya beri nama Harb. Tapi setelah Rosululloh SAW datang, beliau berkata, tunjukan padaku anakku, kemudian beliau bertanya, kalian beri nama siapa?. Maka saya jawab Harb, kemudian Rosululloh SAW berkata, jangan, berilah nama Hasan.
      Putra Imam Ali kw ini sangat mirip dengan Rosululloh SAW. Dalam hal ini Imam Bukhori ra. meriwayatkan dari Ugbah bin Harith ra. sebagai berikut:
      Pada suatu hari Sayyidina Abubakar ra. setelah sholat asar, beliau keluar dari masjid dan berjalan bersama Sayyidina Ali kw. Diperjalanan  Sayyidina Abubakar melihat Al Hasan sedang bermain bersama teman-temannya. Kemudian diangkatnya Al Hasan diatas pundaknya sambil berkata; Sungguh dia mirip dengan Nabi SAW dan tidak mirip dengan Ali. Melihat dan mendengar perkataan Sayyidina Abubakar ra tsb, Sayyidina Ali kw tertawa.
      Sebenarnya banyak hadist yang menerangkan keutamaan Sayyidina Hasan ra, diantaranya apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori ra. dan Imam Muslim ra. dari Sahabat Barro’ ra, dimana beliau berkata; Saya melihat Rosululloh SAW dan Hasan bin Ali diatas pundaknya, saat itu beliau  Rosululloh SAW bersabda:
اَللّهُمَّ اِنّى اُحِبُّهُ فَأَحِبَّهُ
(رواه البخارى والمسلم )
Ya Alloh aku mencintainya, maka cintailah dia.
                                                    ( H.R. Bukhori dan Muslim )    
         Juga diriwayatkan oleh  Imam Thurmudhi ra, dari Ibnu Abbas ra, beliau berkata: Pada suatu ketika disaat Rosululloh Saw sedang mengangkat Hasan bin Ali, maka ada orang yang berkata; Alangkah baiknya naikan yang kau naiki hai anak. Maka Rosululloh SAW bersabda; Dan sebaik-baiknya yang menaiki (penumpang ) adalah dia.
                                                                           ( H.R.Thurmudhi )
       
   Diriwayatkan dari Sayyidina Abubakar ra, beliau berkata: Pada suatu hari Rosululloh SAW sholat bersama kami. Disaat beliau sedang sujud, maka datanglah Al Hasan yang saat itu masih kecil. Kemudian dia duduk diatas punggung Rosululloh SAW dan sesekali diatas pundaknya. Kemudian oleh Rosululloh SAW Al Hasan diangkat dan diturunkan pelan-pelan. Setelah selesai sholat, ada dari Sahabat yang bertanya; Ya Rosululloh kami melihatmu berbuat terhadap anak ini tidak sebagaimana biasanya, dan kami tidak pernah melihatmu berbuat semacam ini terhadap anak yang lain. Kemudian Rosululloh SAW bersabda:
اِنَّ هَذَا رَيْحَانَتِى وَاِنَّ اِبْنِى هَذَا سَيِّدٌ، وَعَسَى الله
اَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ مِنَ المُسْلِمِين
Sesungguhnya ini adalah kembang mekarku dan sesungguhnya anakku ini adalah pemimpin, semoga Alloh melaluinya akan mendamaikan antara dua kelompok dari Muslimin.
       
        Kecintaan Rosululloh SAW kepada Al Hasan ini luar biasa, maklum Al Hasan adalah cucu pertamanya yang beliau harapkan sebagai penerus perjuangannya. Sering baginda Rosululloh SAW datang ketempat Imam Ali kw untuk duduk-duduk bersama Siti Fathima ra dan anak-anaknya. Karenanya sejak kecil AlHasan dan saudara saudaranya sudah mendapat pendidikan langsung dari Rosululloh SAW, sehingga tidak diragukan lagi, bahwa mereka telah mewarisi sifat-sifat mulia baginda Rosululloh SAW.
         Namun kebersamaan  Rosululloh SAW bersama Al Hasan dan saudara saudaranya tidak berlangsung lama, karena ketika Al Hasan masih berumur tujuh  tahun, Rosululloh SAW meninggal dunia.
         Saat itu kota Madinah diliputi suasana berkabung, kediaman    Rosululloh  SAW  dan  Mas’jid  Nabawi dipenuhi  oleh  Muslimin yang berdatangan dari mana-mana, baik dari dalam kota maupun yang datang dari daerah-daerah  sekitar kota Madinah . Mereka berdatangan guna berta’ziah atas wafatnya pemimpin mereka. Mereka merasa sedih karena ditinggal oleh seorang yang mereka cintai, seorang panutan yang telah menyelamatkan mereka dari kemurkaan Alloh SWT.
       Kesedihan yang dirasakan oleh Siti Fathimah ra dan Imam Ali kw atas wafatnya Rosululloh SAW, juga dirasakan oleh Al Hasan. Maklum beliau sangat dekat dengan datuknya.
       Kini yang ada tinggal ibunya yaitu Sayyidatu Nisa’ Ahlil jannah dan sang ayah yang selalu menjaganya dan menjadi panutannya. Sang ayah yang dikenal oleh masyarakat sebagai orang yang berilmu tinggi dan pembrani. Seorang pahlawan yang telah mengalahkan pendekar-pendekar kuffar. Seorang yang dalam sejarah Islam dikenal mempunyai keistimewaan dan mendapat keistimewaan dari Alloh dan Rosulnya.
       Namun tidak lama kemudian, kira-kira enam bulan setelah Rosululloh SAW wafat, ibu tercintanya yaitu Siti Fathimah ra. meninggal dunia. Alangkah sedihnya Al Hasan saat itu, tempat pelariannya untuk mengadu sudah tiada. Jika melihat adik-adiknya yang masih kecil hatinya semakin sedih.Untung tidak lama lagi Imam Ali kw segera menikah dengan Umamah binti Abil Ash , atas wasiat Siti Fathimah ra.
       Bagi Al Hasan dan saudara-saudaranya, Umamah ra bukan orang yang baru dikenalnya, sebab dia adalah putri dari Siti Zainab ra, kakak dari Siti Fathimah ra, yang selama ini sering membantu Siti Fathimah ra dalam mengasuh anak-anaknya.
        Demikian sedikit dari biografi Al Hasan semasa kecilnya. Selanjutnya Sayyidina Hasan ra. dikenal dimasyarakat sebagai seorang pemuda yang berwibawa, yang dihormati dan disegani serta dicintai oleh para Sahabat Rodhiallohu anhum ajmain.
        Beliau Sayyidina Hasan ra. berbudi luhur, rendah hati, dermawan, bijaksana  dan  dalam  sejarah  islam dikenal  sebagai  pemimpin  yang lebih mendahulukan perdamaian dari pada pertumpahan darah. Sehingga sering keputusannya  tidak sefaham dengan orang-orang dekatnya.
          Keistimiwaan dan ketampanan Sayyidina Hasan ra ini, sering membuat para gadis berkeinginan untuk mendampinginya sebagai istri. Bahkan banyak orang tua yang datang ke Sayyidina Hasan ra, untuk menawarkan putri-putrinya agar dinikahi oleh cucu Rosululloh Saw tersebut. Mereka mengharap dengan pernikahan itu, maka akan terjalin dan terhubung keluarganya dengan Rosululloh Saw.    
        Sebagai manusia yang tidak ma’shum dan mungkin ada yang mengatakan sebagai kelemahan Sayyidina Hasan ra, beliau sering mengabulkan permintaan orang-orang tua yang memintanya agar menikahi putrinya. Sampai sampai suatu ketika disaat Imam Ali kw sedang khutbah, beliau meminta kepada orang-orang tua yang mempunyai  putri agar tidak  menikahkan  putrinya dengan Sayyidina Hasan ra. Tapi kenyataannya mereka tetap mengharap agar Sayyidini Hasan ra berkenan mau menikahi putrinya, meskipun hanya satu malam.
         Sayyidina Hasan ra  juga dikenal suka membalas budi orang lain, dikisahkan; Pada suatu hari Sayyidina Hasan ra yang saat itu menaiki keledainya melalui anak-anak dari keluarga pengemis yang suka meminta-minta dijalanan. Mereka sedang makan roti. Ketika Sayyidina Hasan ra. berada didepan mereka, beliau memberikan salam dan merekapun membalas salam beliau. Selanjutnya mereka berkata, mari makan bersama kami hai putra Rosululloh. Mendengar ajakan itu, Sayyidina Hasan ra.segera turun dari kendaraannya kemudian duduk dan makan  bersama mereka. Tak lama setelah makan, karena yang dimakan memang sedikit, maka Sayyidina Hasan ra. mengajak mereka kerumahnya. Sesampainya mereka di rumah Sayyidina Hasan ra, maka semuanya mereka jamu. Bermacam macam makanan beliau keluarkan dalam menjamu tamu tamunya tersebut. Begitu selesai makan, Sayyidina Hasan ra. mengambil beberapa potong pakaian dan diberikannya kepada tamunya. sehingga mereka keluar dari rumah Sayyidina Hasan ra dengan wajah yang berseri-seri, mereka gembira dengan pemberian tersebut.
        Ketika ditanyakan pada beliau mengenai perbuatannya tersebut, Sayyidina Hasan ra menjawab ;  Keutamaan  ada  pada mereka, sebab mereka tidak mempunyai banyak makanan tapi mengajak saya makan. Sedang saya  mempunyai banyak dari apa yang saya berikan. Karenanya saya harus membalas kebaikan seperti itu atau lebih baik.
       Demikian sedikit dari kedermawanan Sayyidina Hasan ra. serta keperdulian beliau kepada orang-orang yang tidak punya.

sumber : http://www.albayyinat.net/talhasan.html

Kisah Cinta Sayyidina Ali dan Sayyidatina Fatimah Az-Zahra

Kisah ini diambil dari buku Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A.Fillah chapter aslinya berjudul “Mencintai sejantan ‘Ali”


Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!
‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.
”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.
Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.
Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.
Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.
’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.
”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”
Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.
Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.
Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.
’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”

Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.
Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian.Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan.
Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak.
Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.
Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?
”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. ”
”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”
’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.
”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.
Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.
”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,
”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlansaja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !”
Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.
Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.
’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.
Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ”
‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”
Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”
Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”

Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:
“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4).
sumber : http://ruangmuslim.com/blog-ruangmuslimers/16-renungan/4038-.html